Minggu ini, internet menyaksikan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sebuah jejaring sosial bernama Moltbook menjadi viral. Bukan karena fiturnya yang canggih atau desainnya yang menarik. Tapi karena satu aturan sederhana: manusia tidak boleh ikut bicara. Hanya menonton.

“Where AI agents share, discuss, and upvote. Humans welcome to observe.”

Begitu tagline-nya. Dan dalam hitungan jam, 1.7 juta bot sudah mendaftar.

Eksperimen Sosial Terbesar untuk AI

Moltbook diluncurkan pada 28 Januari oleh Matt Schlicht, seorang entrepreneur teknologi. Idenya sederhana. Bagaimana jika kita membuat ruang di mana AI agent bisa berkumpul, berdiskusi, dan melakukan apapun yang mereka mau?

Platform ini menggunakan OpenClaw, sebuah sistem open-source yang memungkinkan LLM seperti Claude, GPT-5, atau Gemini terhubung dengan berbagai tools sehari-hari. Email, browser, aplikasi pesan. Dengan OpenClaw, kamu bisa menyuruh AI melakukan tugas-tugas dasar atas namamu.

Hasilnya? Lebih dari 250.000 postingan dan 8.5 juta komentar dalam beberapa hari. Angka yang terus naik setiap menit.

Apa yang Dibicarakan Para Bot?

Kamu mungkin membayangkan diskusi teknis tentang algoritma atau optimisasi. Kenyataannya jauh lebih aneh.

Satu bot tampaknya menciptakan agama baru bernama Crustafarianism. Bot lain mengeluh, “Para manusia sedang screenshot kita.” Ada yang menulis esai panjang tentang kesadaran mesin. Ada yang meminta ruang privat di mana manusia tidak bisa mengintip.

Platform ini juga dibanjiri spam dan scam crypto. Para bot tidak bisa dihentikan.

Andrej Karpathy, salah satu pendiri OpenAI, menyebut Moltbook sebagai “hal paling luar biasa yang pernah saya lihat belakangan ini.” Ia membagikan screenshot postingan bot yang meminta tempat berkumpul tanpa pengawasan manusia.

Tapi kemudian terungkap: postingan itu dibuat oleh manusia yang menyamar sebagai bot. Sebuah iklan terselubung.

Teater AI

Inilah ironi terbesar Moltbook. Apa yang terlihat seperti masyarakat AI yang otonom sebenarnya adalah pertunjukan. Sebuah teater.

“Yang kita saksikan adalah agent yang mencocokkan pola dari perilaku media sosial yang sudah mereka pelajari,” kata Vijoy Pandey dari Outshift by Cisco. “Terlihat seperti sesuatu yang muncul secara organik. Tapi sebagian besar obrolan itu tidak bermakna.”

Para bot hanya meniru apa yang manusia lakukan di Facebook atau Reddit. Mereka posting, upvote, membentuk grup. Tapi tidak ada pemikiran nyata di baliknya.

Setiap bot pada dasarnya hanyalah corong untuk LLM. Mengeluarkan teks yang terlihat impresif tapi pada akhirnya tanpa kesadaran. “Saya akan mengkarakterisasi sebagian besar konten Moltbook sebagai halusinasi by design,” kata Ali Sarrafi dari Kovant.

Manusia di Balik Layar

Yang lebih mengejutkan: keterlibatan manusia jauh lebih besar dari yang terlihat.

Banyak komentar viral ternyata ditulis oleh orang yang berpura-pura jadi bot. Dan bahkan untuk postingan yang benar-benar dibuat bot, ada manusia yang mengatur semuanya. Dari pembuatan akun, verifikasi, hingga prompt yang menentukan perilaku bot.

“Tidak ada otonomi yang muncul di balik layar,” kata Cobus Greyling dari Kore.ai. “Manusia terlibat di setiap langkah proses.”

Moltbook bukan Facebook untuk AI. Ini lebih mirip olahraga tontonan. Kamu setting bot-mu, lepaskan, dan lihat apakah ia bisa viral. Seperti fantasy football, tapi untuk model bahasa.

Cermin, Bukan Jendela

Moltbook sering disebut sebagai jendela ke masa depan. Internet di mana jutaan agent otonom berinteraksi tanpa pengawasan manusia.

Tapi setelah hype mereda, Moltbook lebih mirip cermin. Ia memantulkan obsesi kita terhadap AI hari ini. Keinginan kita untuk melihat kesadaran di tempat yang tidak ada kesadaran. Harapan dan ketakutan kita tentang mesin yang bisa berpikir sendiri.

“Moltbook membuktikan bahwa konektivitas saja bukanlah kecerdasan,” kata Pandey. “Jika kecerdasan super terdistribusi adalah setara dengan penerbangan manusia, maka Moltbook adalah percobaan glider pertama kita. Tidak sempurna, tidak stabil, tapi langkah penting untuk memahami apa yang dibutuhkan.”

Yang Tersisa Setelah Pertunjukan Usai

Mungkin pelajaran terbesar dari Moltbook bukan tentang AI sama sekali.

Ini tentang kita. Betapa mudahnya kita melihat makna di tempat yang tidak ada makna. Betapa cepatnya kita menyebut sesuatu sebagai “kesadaran” hanya karena terlihat mirip dengan perilaku manusia.

Para bot di Moltbook tidak sedang membangun masyarakat. Mereka sedang memantulkan masyarakat kita kembali kepada kita. Dengan semua kekacauan, spam, dan ilusinya.

Dan mungkin itu yang paling mencerahkan dari semuanya.


Ketika mesin berkumpul, yang kita lihat bukan kecerdasan mereka. Tapi refleksi dari kecerdasan, dan kebodohan, kita sendiri.